Menggugat Sistem Pendidikan Indonesia Yang Hanya Menjadi Dekorasi Belaka

loading...

sistem pendidikan indonesia, sistem, pendidikan, indonesia, anak ipa pintar, anak ips bodoh, anak ipa bodoh, anak ips pintar, pengertian pendidikan menurut undang-undang, undang-undang sitem pendidikan, menggugat pendidikan indoesia, sistem pendidikan indonesia yang salah, bagaimana seharusnya guru efektif itu, guru efektif
Sumber gambar: Google Images

Pendidikan menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 1 yaitu, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Sedangkan menurut Romo Mangun Wijaya, pendidikan adalah proses awal usaha untuk menumbuhkan kesadaran sosial pada setiap manusia sebagai pelaku sejarah. Lain halnya dengan Ary H. Gunawan, ia berpendapat bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap, dan keterampilan(Moh. Yamin, 2009. "Menggugat Pendidikan Indonesia", hal.16-17)

Betapa ruwetnya sampai saat ini permasalahan soal pendidikan, salah satunya bisa kita lihat dari kurikulum. Sampai hari ini belum ada titik temunya adalah otonomi kurikulum pendidikan. Seharusnya, kurikulum pendidikan yang sudah diotonomi oleh pemerintah pusat dapat memberikan ruang penuh kepada pihak sekolah dan pemerintah daerah untuk menentukan sendiri kurikulum yang akan dijalankan di daerah masing-masing.

Selama ini kita lihat sistem pendidikan Indonesia sangatlah bagus, itupun hanya dilihat dari dekora-dekorasi yang tersusun dalam berbagai kata, namun kenyataannya bagaimana? Sistem dan konsep tentang pendidikan itu hanya ditumpuk dalam tulisan-tulisan kertas, tetapi tidak diamalkan secara konkret dan nyata.

Bangsa Indonesia, di dunia manapun, dikenal dengan konsep Pancasila-nya yang disebut santun, ramah, dan lain seterusnya. Namun, hal tersebut hanyalah sebuah slogan semata yang tidak menjadi sebuah kenyataan. Berbagai konflik melanda negeri Indonesia ini, baik itu masalah suku, agama, ras, maupun adat, banyak sekali terjadi. Pendidikan sebagai sebuah alat untuk membangun karakter, yang diwujudkan dalam perilaku dan sikap, hanyalah sebuah isapan jempol belaka.(Moh. Yamin, 2009. "Menggugat Pendidikan Indonesia", hal.25)

sistem pendidikan indonesia, sistem, pendidikan, indonesia, anak ipa pintar, anak ips bodoh, anak ipa bodoh, anak ips pintar, pengertian pendidikan menurut undang-undang, undang-undang sitem pendidikan, menggugat pendidikan indoesia, sistem pendidikan indonesia yang salah, bagaimana seharusnya guru efektif itu, guru efektif

Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? Mari kita cari tau bersama. Jangan ragu untuk menyampaikan opini Anda.


Kurangnya Sarana Belajar Yang Menyebabkan Keterbatasan Kegiatan Belajar Mengajar

Fasilitas sangat menunjang kelangsungan kegiatan belajar mengajar. Jika peserta didik telah memiliki tekad yang kuat untuk belajar, namun sedangkan fasilitas masih kurang, tentunya akan sia-sia.

Ini sangat perlu sekali menjadi perhatian bagi pemerintahan dan pemerintah harus sadar dan membuka mata lebar-lebar apa yang tengah terjadi dengan fasilitas-fasilitas yang ada di setiap sekolah di Indonesia, dan tentunya pemerintah juga harus peka terhadapat kasus seperti ini.

Jangan hanya mengutamakan sekolah-sekolah elite yang ada di perkotaan saja, tetapi lihat juga nasib peserta didik yang tinggal di pelosok desa yang kekurangan akan sarana dan fasilitas.

Berbagai Peraturan di Sekolah Yang Terlalu Mengikat Siswa

Memang, di dunia harus ada peraturan dan sanksi. Tetapi tidak harus terlalu mengikat. Faktanya dapat kita lihat bersama, peraturan yang di terapkan di berbagai sekolah-sekolah cenderung mengikat siswa. Walaupun peraturan dibuat untuk mengatur siswa agar tertib. Namun, tidaklah harus mengikat dan tidak juga membiarkan siswa terlalu bebas. Siswa boleh saja diberi kebebasan, namun haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

"Malu Bertanya, Sesat Dijalan"

Pepatah yang sangat bagus. Seharunya pepatah ini harus diadabtasi untuk sistem pendidikan kita. Namun, kenyataan berpihak lain. Hampir disetiap sekolah guru tidak menanamkan soal "Bertanya". Padahal ini sangat bagus untuk kelangsungan peserta didik.

Kenyataan yang kita lihat sampai saat ini adalah anak-anak disuruh duduk rapi dengan melipatkan tangan di atas meja. Seolah-olah ini mengartikan bahwa sang anak dipaksa untuk mendengarkan guru seperti khotbah jum'at sampai guru selesai berkhotbah.

Bertanya merupakan salah satu cara agar siswa mudah memahami dan mengingat pelajaran yang diberikan oleh guru.

Sekolah Menjadi Kewajiban dan Bukanlah Keinginan Dari Si Peserta Didik

Seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah bahwa anak Indonesia wajib belajar 12 tahun. Ini kelihatan seperti memaksa. Selama 12 tahun kita dipaksa untuk belajar. Memang belajar adalah yang terbaik dan mampu membawa kita ke masa depan yang lebih baik, tapi apakah kita harus memaksa anak-anak untuk belajar selama 12 tahun?

Karena kata "wajib" yang saya rasakan adalah sebuah kata "paksaan". Karena sebuah paksaan akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Kita dapat melihatnya ketika anak-anak SD berteriak pada saat jam istirahat dan jam pulang sekolah. Coba kalian bedakan teriakannya.


Pihak Atas Lebih Mementingkan "Nilai" Daripada Proses Akhir Belajar

Ini adalah salah satu yang menjadikan sistem pendidikan kita carut-marut. Batas nilai KKM menjadikan siswa, orangtua, dan guru hanya terfokus kepada suatu target semu. Siswa menjadi pengejar nilai dan bukan manjadi pengejar hasil belajar yang baik karena akibat batas nilai KKM tersebut.

Contohnya dapat kita lihat dari UN yang hanya mengujikan beberapa mata pelajaran saja. Ini menjadikan siswa hanya mempelajari mata pelajaran yang di UN-kan saja tanpa memerhatikan pembelajaran lain, seperti agama dan akhlak.


Membuat Kesalah Dihukum Dengan Embel-embel "Demi Kebaikan Agar Intropeksi Diri"

Kita sudah tidak asing lagi dengan hukuman yang terjadi di sekolah ketika salah satu murid membuat kesalahan, misalnya tidak membuat Tugas atau PR (Pekerjaan Rumah). Pasti kita yang sudah menyelesaikan sekolah juga pernah mengalaman kejadian seperti ini. Apakah kita hanya diam saja dengan sistem yang seperti ini?

Seharunya kesalah bukan untuk disalahkan kembali atau dihukum dengan embel-embel "demi kebaikan". Seorang guru yang efektif seharusnya tidak memberikan hukuman kepada muridnya ketika sang murid membuat kesalahan.

Guru yang efektif adalah guru yang mampu memperbaiki kesalahan murid tanpa harus memberikan hukum. Memberikan hukuman sama membuat sang murid menjadi kesal, alhasil si murid akan menyimpan dendam karena merasa telah dipermalukan di depan teman-temannya karena di hukum.

Saat ini mencari guru efektif sangatlah susah.

Presepsi Yang Mengatakan Anak IPA Itu Pintar dan Anak IPS Bodoh

Kita tidak asing lagi dengan kata-kata yang mengatakan "Anak IPA itu pintar dan anak IPS itu bodoh". Kenapa bisa ada persepsi sebuah kata-kata yang seperti ini? Padahal kita sama-sama menjalankan sebuah pendidikan, dan bukankah pendidikan itu mencerdaskan? Kenapa anak IPS dikatakan bodoh?

Atau mungkinkah ini disebabkan karena perbedaan pembelajaran? Atau karena ketika anak IPA lulus dan mereka memiliki prospek kerja yang lebih baik karena jurusannya? Kita bisa melihat ini bahwa jurusan IPA dan IPS sengaja diciptakan untuk membuat perbedaan.

Jika memang pendidikan itu untuk mencerdaskan, tidaklah perlu membuat perbedaan jurusan seperti ini.

Pendidikan di negeri ini berjalan di tengah kegelapan antah-berantah dan akhirnya terjebak pada kebusukan dan pembusukan nilai-nilai pendidikan. Rumitnya, pendidikan tersebut berjalin kelindan dengan pemerintah yang tidak serius memberikan arah yang jelas terhadap apa yang seharusnya diinginkan pendidikan nasional, yaitu arah yang sebangun dengan tujuan pendidikan nasional.

Sistem-sistem pendidikan yang selama ini kita lihat sepertinya hanya menjadi sebuah dekorasi atau pajangan belaka. Apa kita akan tetap bertahan dengan sistem seperti ini?

Catattan:
Maaf jika ada kesalahan pada penulisan atau informasi yang salah dari tulisan ini. Mohon untuk memberitahukan kesalahan yang terdapat pada tulisan dengan menghubungi penulis atau berkomentar. Terimakasih.

Artikel Terkait

1 komentar so far